Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • masyithoh.kautsar10 3:21 am on 16 September 2010 Permalink | Reply  

    cerita inspirasi 2 

    nama : masyithoh alkautsar

    nrp : H14100016

    laskar : 19

    Tantowi Yahya, “Gue pengen beken”

    “Intinya adalah, belajar pada orang yang pernah menjalaninya, sudah melakukannya dan sudah mencapainya, itulah kunci sukses jaman sekarang. Tidak perlu cara lain lagi, modifikasi dan diskusikan dengan mereka. Jangan sok tahu.”

    Tantowi Yahya yang kerap disapa “Mr. Tiwai” dilahirkan dari keluarga yang sederhana di kota Palembang pada 26 Oktober 1960. Mengawali karir di bidang perhotelan sesuai dengan background pendidikannya di National Hotel and Tourism Institute Bandung yang diselesaikannya pada tahun 1983.

    Berkat kerja keras dan kemauan belajar yang tinggi akhirnya beliau berhasil menjadi salah satu presenter/ MC terbaik di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan penghargaan yang diterimanya dari Panasonic Awards sebagai The Most Favourite Television Quiz Host selama 2 tahun berturut-turut (2003 dan 2004).

    Tantowi kemudian mendirikan Country Music Club of Indonesia di tahun 2003, dan setahun kemudian METRO TV mengundangnya untuk menjadi host di acara musik country atau yang dikenal “Goin’ Country”.

    Gue
    itu hoki. Hoki itu adalah kombinasi dari dua hal. Kemampuan dan peluang. Lu menjadi orang yang sangat qualified, tapi peluang tidak ada, nggak akan jadi apa-apa. Tapi sebaliknya, peluang terbuka tapi lu nggak siap, lu juga nggak akan bisa jadi apa-apa.

    Dari kecil sudah punya visi tentang kehidupan di masa depan yang lebih baik ya?

    Sangat.
    Lu kalau denger omongan gue, kesannya GR (Gede Rumangsa) banget. Jaman itu kan kita suka tuker-tukeran data pribadi. Ada nama, alamat, hobby, cita-cita, kata mutiara. Lu tahu nggak cita-cita gue? Pengin beken. Selalu gue tulis, “pengin beken”. Tapi gue sendiri nggak tahu, beken gue itu lewat apa. Tapi gue yakin dan percaya, gue bakal beken. Gue yakin banget, someday, gue bakal beken. Tapi gue jadi apa, gue nggak tahu.

    Nah, ketika itu terjadi di gue, ketika gue muncul di TV dan orang kenal gue. Apa yang gue cita-citakan puluhan tahun yang lalu, kejadian di diri gue sekarang.

    Gue itu ambisius banget, loh. Cuma gue nggak nunjukin ke orang. Dalam pengertian, gue nggak bakal nyikut orang, gue nggak bakal matiin orang. Tapi bahwa gue punya cita-cita yang meledak-ledak di dalam dada gue, orang nggak tahu. Tapi ketika itu udah kejadian, gue baru cerita bahwa itu udah gue cita-citakan lima tahun lalu.

    Jadi gue bukannya bermaksud milih. Gue hidup di daerah yang gitu banget, kumuh, tapi gue juga bergaul di kelompok gedongan di daerah Menteng (kalau di Jakarta). Temen gue
    banyak banget. Gue banyak belajar mengenai etiket, visi, kehidupan modern, walaupun gue orang kampung.

    Dan gue sejak kecil udah gemar membaca. Gue kalau baca itu dari depan sampai abis. Tapi pola baca gue dari kecil sampai sekarang itu sama. Baca koran, depan, kemudian olahraga. Yang gue cari cuma sepakbola. Makanya kalau lu Tanya pemain bola waktu itu gue apal di luar kepala. Baru baca yang lain-lain sampai habis. Gue itu waktu SD yang namanya gubernur se-Indonesia, hapal.

    Sekarang ini tinggal apa lagi mimpi Anda yang belum kesampaian?

    Menurut
    gue, gue udah puas berbicara untuk produk yang sifatnya komersial. Gue tuh kepingin banget jadi jubir (juru bicara), tapi jubir negara. Karena menurut gue, yang missing dari negara ini adalah, kita nggak punya orang yang benar-benar qualified yang bisa bercerita apa adanya dengan bahasa yang sangat luwes, yang bisa diterima pers, yang bisa diterima
    oleh seluruh dunia.

    Banyak dampak negatif yang terjadi di Negara ini akibat ketidakmampuan kita untuk mengutarakan itu. Semua orang ngomong, dan lebih gila lagi kalau lu pakai interpreter. Kalau lu pakai interpreter, kan terjadi distorsi. Lu ngomong apa, keluarnya apa. Itu yang di quot oleh pers. Nah, one day, gue kepingin jadi seperti itu.

    Seorang Tantowi Yahya, memberi contoh akurat bagi kita tentang perlunya mindset dan semangat yang tepat untuk meraih kesuksesan.

    “Success is never ending; failure is never final.”

     
  • masyithoh.kautsar10 2:58 am on 16 September 2010 Permalink | Reply  

    cerita inspirasi 1 

    nama : masyithoh alkautsar

    nrp : H14100016

    laskar : 19

    Perjalanan tragis tapi banyak hikmah..

    Sore hari, saya dan kakak saya berniat untuk berdagang AlQuran terbitan syaamil 15 in 1 #kerenbangetpokoknya , niatnya Cuma di sekeliling komplek rumah aja, tapi kepikiran buat ke rumah teman saya. Saya punya feeling orang tua teman saya itu bakal beli AlQuran yang saya jual. Tapi sebelumnya, kami nyoba dulu mampir ke rumah tetangga yang kami piker ada peluang untuk dibelinya AlQuran ini. Kami jalan kaki. Pas sampai di sepan rumahnya, kami memberanikan diri untuk mengetuk pintunya, sebut saja Pak A, yang membukakan pintu rumahnya. Dengan perasaan degdegan campur aduk, kami coba menawarkannya, setelah lama menjelaskan produk kami beserta produk satu lagi yaitu ensiklopedi, kami agak miris mendengar alasan yang dikeluarkan oleh bapak tersebut. “ AlQuran yang kecil saja jarang dibuka, gimana yang sebesar dan setebal ini? Paling kalau pas ada yasinan saja ” DEG! Mungkin kami sudah berkali-kali di tolak, tapi belum ada yang alasannya membuat kami begitu miris dan jujur, saya pun merasa tersindir. Hanya membaca disaat saat tertentu saja.

    Lalu, kami dengan semangat yang masih tersisa melanjutkan perjalanan ke rumah teman saya. Awalnya, saya gak ada niat buat ngendarain motor, apalagi ngebonceng yang namanya kakak saya, tapi gimana lagi, lagian jaraknya emang jauh. Saya memberanikan diri, udah baca doa, semoga gak terjadi apa-apa. Singkat cerita, kami sampai ke rumah teman saya itu, Alhamdulillah setelah bincang bincang panjang lebar tentang macem-macem lah pokoknya, ibu teman saya pun mutusin buat beli AlQuran kami. Malah mesen lebih banyak lagi,J . kami pulang dengan wajah cukup cenghar:D akhirnya pulang ke rumah gak terlalu kecewa. Di jalan, saking senengnya, senyum senyum sendirilah. Gak nyadar, udah tau jalan ke rumah tuh lagi rusak rusaknya, lagi banyak batu-batunya buat perbaikan jalan. Jarak udah agak deket ke rumah, saya ngeliat batu agak besart, bingung mau lewat mana, soalnya disampingnya juga banyak bolongan yang besar dan dalem. Bingung, akhirnya sya tabrak tuh batu, jelas gak mungkin seimbang, apalagi sambil ngebonceng kakak saya yang gak ringan berat badannya. Udah pasrah bangetlah, soalnya disebelah motor kami ada truk besar yang jalan juga #untungnyagakterlalucepet. Akhirnya kami terseret jauh, jatoh deh, kakak saya udah luka-luka gak jelas alias parah lumayan, saya Cuma bias ketawa nahan nangis soalnya bongung, apalagi ensiklopedi yang kami bawa jatoh ke got, untungnya AlQuran ada di dalam tas. Kami langsung di tolong sama tukang-tukang dibonceng gentian ke rumah. Alhamdulillahnya truk nya langsung berhenti, kalo nggak, gatau keadaan kita gimana waktu itu. Motor udah makin lecet aja.

    Akhirnya kami sampai di rumah, dengan bawa cerita suka sama duka. Tapi saya sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan buat perbaiki hidup saya, contohnya saja masih jarangnya saya membaca kitab suci AlQuran yang jelas jelas pedoman hidup. Makasih ya Allah atas peristiwa iniJ semoga bisa lebih memanfaatkan hidup ini lebih baik, amin..

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel